Wednesday, May 22, 2019

Get in Style with Styletheory



Haloo, 

Kali ini aku mau bahas per-baju-an lagi nih,  setelah seringnya bahas masalah per-hati-an.
Aku mau sharing tentang pengalaman aku dengan Styletheory. Setelah wara wiri lihat iklan Styletheory di feeds instagram, akhirnya ter-brainwash juga otak aku dengan platform fashion ini. Berbekal pengetahuan yang minim bahwa platform ini adalah platform rental baju, pada suatu pagi yang iseng aku register di apps Styletheory. Masukin alamat email, masukin nomor credit card, isi data ini itu, akhirnya resmi-lah tergabung dalam Styletheory. Seperti halnya kebiasaan perempuan yang suka impulsif, aku pun menyadari keputusan untuk register di Styletheory merupakan keputusan yang sedikit impulsif tanpa perhitungan cost benefit sebelumnya. 

Styletheory adalah fashion rental platform terbesar di Asia Tenggara. To be honest aku belum tau ada platform fashion rental lainnya sih. Berbekal uang registrasi sebesar Rp. 590.00, kita bisa langganan rental baju di Styletheory selama sebulan. Selain langganan per bulan, juga ada penawaran langganan per 3 bulan dan 6 bulan dengan biaya yang lebih murah tentunya. Setiap kali rental kita boleh pilih 3 baju yang kemudian akan mereka kirimkan dalam satu box besar. Selain untuk membayar rental, biaya berlangganan yang kita bayarkan sudah termasuk dengan biaya dry clean dan biaya kirim. Simple banget kan? ga pake mikir-mikir masalah ekspedisi, tinggal tunggu box nya datang ke rumah dan bisa langsung dipakai karena baju yang mereka kirimkan "ready to wear" alias sudah dicuci. 





Styletheory akan mendata profil kita, mulai dari ukuran badan, preferensi gaya berbusana, hingga preferensi berhijab atau tidak. Ketika mengisi data profil, semula aku memilih busana untuk kategori wear-hijab. Namun setelah browsing, koleksi baju dengan kategori wear-hijab tidak terlalu banyak dibanding koleksi never-wear-hijab. Lalu aku memutuskan untuk merubah profil menjadi never-wear-hijab melalui chat dengan costumer service, dan seketika langsung dibantu rubah profil oleh mereka. Pada mulanya aku sudah menyiapkan mental untuk berurusan dengan costumer service, maklum kadang-kadang sesuatu yang dirasa mudah bisa jadi sulit ketika berhubungan dengan customer service. Beyond my expectation, customer service-nya ramah dan sangat membantu, seperti ngobrol sama teman sendiri !!





box of happiness

Setelah browsing berujung bingung mau pilih baju yang mana, akhirnya aku putuskan 3 baju pertama yang akan aku rental dari styletheory. Aku upayakan pilih baju yang multifungsi, bisa di pakai ke kantor maupun jalan ke mall  karena sejujurnya aku belum yakin kapan baju-baju ini akan aku pakai, berhubung aku bekerja kantoran dan kesempatan untuk jalan - jalan hanyalah ketika weekend, itu pun kalau ga mager di rumah ^^ 





office look

nite out look

casual weekend look

 Ketika selesai rental, ke-tiga baju tersebut bisa kita kembalikan lagi dalam box  yang sama via kurir maupun langsung kembalikan di drop point (FX Sudirman).  Kalau masih dalam masa langganan, setelah baju -baju sudah diterima kembali oleh Styletheory, kita bisa pilih-pilih baju dan rental lagi loooh. So far menurut aku, sistem rental baju di Styletheory ini menguntungkan sekali untuk kamu yang kerja di dunia fashion atau dunia kreatif dimana kebebasan bereksperimen dalam berbusana merupakan hal yang lumrah, atau untuk kamu yang pekerjaannya menuntut untuk sering bertemu klien *kesan pertama harus impresif doong* atau untuk kamu yang sekedar suka foto OOTD. 

Rental di Styletheory juga cocok untuk kamu yang senang mengikuti trend, cepat bosan dalam berpakaian, atau yang suka ragu-ragu dalam membeli pakaian. Karena di Styletheory, kamu bisa beli baju yang sudah pernah kamu rental!  Ibaratnya kita bisa testdrive dulu baju nya sebelum membeli. 

Oki donki, thanks for reading
BRB mau pilih pilih baju lagi untuk box ke dua aku ^^
ciao bella !!





Wednesday, April 17, 2019

confession of an ordinary woman #2


assalamuallaikum ,,

hallo  !!


Setelah jeda lama dengan tulisan aku sebelumnya, akhirnya sesuai janji aku, aku putuskan untuk melanjutkan cerita aku tentang gimana aku berusaha "sehat" mentally

Seperti cerita aku sebelumnya, tahun 2018 aku banyak mengalami masa- masa down, walaupun ga akan aku pungkiri, Allah sangat baik kepada aku tahun lalu dengan melimpahkan banyak rejeki baru, pengalaman baru, teman baru. MasyaAllah. Tapi ketika ada yang salah dengan jiwa kamu, bahkan hal baik yang ada didepan mata kamu pun akan tertutupi dengan perasaan dan pikiran negatif. Begitulah kondisi yang aku jalani saat itu, hidup rasanya suram dan hopeless, sampai akhirnya di suatu titik aku sadar, aku ga mau begini terus tapi I cant help my self, I need help. 

Titik sadar bahwa diri ini membutuhkan bantuan mungkin berbeda-beda untuk setiap individu. Daya tahan mental setiap orang berbeda layaknya daya tahan perut masing-masing orang yang berbeda ketika makan sambel. Jadilah pribadi yang peka terhadap diri sendiri, baik apa yang kamu pikirkan dan rasakan di badan. It might send you a signalUntuk aku sendiri ada moment dimana aku tersadar aku butuh bantuan psikolog. 

#psikosomatis
psikosomatis secara sederhana bisa diartikan sakit di tubuh yang disebabkan oleh (sakit) pikiran. Salah satu hal yang membuat aku sadar kalau aku butuh bantuan adalah ketika berkali-kali aku merasakan badanku sakit setiap kali aku merasakan kesepian. 

ya, aku pernah merasakan kesepian,

ya, aku pernah menangis karena merasakan kesepian,

tapi kemudian aku mulai meringkuk dan merasakan badan yang sakit entah di area mana ketika aku menangis kesepian, disitulah aku merasa  "ini ga bener, ini salah, ga seharusnya badan aku sakit karena apa yang aku pikirkan dan rasakan". 

Perut aku juga sering kali terasa sakit ketika aku dalam masa-masa depresi. 

'Depresi' merupakan kata yang cukup kuat dibandingkan dengan kata 'Stress', tapi aku berani pakai kata depresi disini, karena memang hasil test MMPI yang sudah aku jalani menyebutkan aku depresi. 

#putus asa
Ada hari-hari dimana aku merasa sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup dan sudah tidak ada lagi keinginan untuk hidup. Ada hari-hari dimana aku berpikir bahwa lebih baik aku mati saja. Ada hari-hari dimana aku ingin loncat dari Gojek yang aku tumpangi atau berharap kalau motor Gojek yang aku tumpangi tertabrak oleh mobil hingga menyebabkan aku celaka. Tapi Allah sayang sama aku, Alhamdulillah aku masih dikasi pikiran-pikiran waras untuk tetap bertahan bahkan masih bisa tersadar bahwa pikiran aku, keinginan aku, dan putus asa nya aku adalah salah. 

#menyalahkan orang lain dan keadaan
Masa-masa itu mungkin masa-masa yang berat ga cuma untuk aku tapi untuk orang disekitar aku. Aku menjadi orang yang demanding dan pemarah. Ketidaknyamanan yang aku rasakan terhadap diri sendiri berimbas kepada orang lain. Teman-teman harus menghadapi aku yang nagging akan perhatian mereka, aku yang sensitif, aku yang cranky tapi ga bisa di bilangin.  Aku menjadi individu yang ga bisa sendiri. Sering kali aku ngambek dan menyalahkan teman-teman kalau mereka ga available untuk aku. Aku juga sulit melihat sisi positif dari suatu keadaan. Menyalahkan orang lain dan keadaan jelas bukan attitude yang baik dalam hubungan apa pun, baik pertemanan, keluarga maupun dengan pasangan.

Berangkat dari tiga moment tersebut, aku membulatkan tekat untuk sembuh dan sehat secara mental. Aku pergi ke psikiater di RSCM Kencana, lalu berlanjut ke psikolog di rumah sakit yang sama. Dan ternyata, dari pengalaman aku, konseling psikologis itu cocok-cocokan layaknya kita konsultasi masalah kulit ke dokter muka. Jadi, selain ke RSCM Kencana, aku juga menjalani konseling ke salah satu hypnoterapis yang aku temukan di instagram. 

Proses konseling ini ga cuma 1-2 kali pertemuan saja. Aku harus bolak balik psikiater-psikolog-psikiater dan juga beberapa kali balik ke hypnoterapis. It is time, energy and money -consuming. Tapi waktu, energi dan harga yang harus aku korbankan ga seberapa karena diri aku lebih berharga untuk aku jaga, aku sayangi dan aku sehatkan. Semua aku lakukan karena aku mau sembuh, aku pingin sehat, aku pingin bahagia, dan ultimately aku pingin membahagiakan orang lain disekeliling aku.
aku pingin membahagiakan orang lain disekeliling aku
aku pingin membahagiakan orang lain disekeliling aku
aku pingin membahagiakan orang lain disekeliling aku

*berulang sampai empat kali karena satu kali saja tidak cukup untuk menggambarkan betapa aku pingin hidup aku bisa bermanfaat dan bikin orang disekeliling aku bahagia. 

Aku yakin, hari ini, hidup aku tidak banyak berubah dibanding saat yang sama satu tahun yang lalu. Tapi gimana aku menjalani hidup sudah berubah. Pengalaman menyembuhkan diri sendiri ini pelan-pelan merubah diri aku. 
Cengeng? ya jelas masih suka nangis, normal kan perempuan dikasi hati yang lebih peka.
Merundung? kalau soal hati ya kadang masih suka merundung hihi, tapi jauuuh lebih baik daripada sebelumnya. 
Sensitif? masih pun, tapi sekejap saja dan ga terlalu lama aku simpan dalam hati.  

Kok kayaknya masih belum positif-positif amat kalo masih cengeng, merundung dan sensitif? 
Ya aku kan manusia biasa, aku ga sempurna, dan inilah aku.

Inilah gimana caranya aku mulai mencintai diri sendiri dan bahagia dengan diri sendiri, dengan menerima diri sendiri apa adanya. Itulah kenapa aku ga mau berusaha sok kuat dengan tidak menangis, tidak merundung dan tidak sensitif, karena aku memang cengeng dan sensitif. Tapi aku belajar untuk tidak berlarut-larut dan tidak berlebihan. 

Acceptance and Balance adalah kata kunci yang aku pegang dalam proses "menyehatkan diri" ini. Ngomongin tentang kata-kunci, next time aku coba share juga ya kata-kunci apa yang aku pelajari selama aku konseling kemarin, siapa tau bisa menginspirasi dan cocok untuk diterapkan oleh kalian juga.

hope you find this writing useful,
then you've made my wish come true,
to live as a useful person

Love
Wulan







Sunday, December 23, 2018

confession of an ordinary woman

halo
assalamuallaikum,
apa kabar kalian semua?

Tahun 2018 sudah menjelang masa penghabisan nih, sudah masa-masa nya merefleksikan hidup sepanjang tahun 2018 kemarin. Untuk saya, banyak sekali yang harus saya refleksikan dan harus saya jadikan bahan renungan untuk perbaikan diri dimasa yang akan datang. Duh, seperti nya berat ya bahasan kali ini, tapi sharing is caring. Semoga apa yang akan aku tulis ini bisa bermanfaat bagi kalian yang membaca. ^^

Semakin bertambah usia, semakin banyak tantangan dalam hidup kita. Itu yang aku rasakan tahun 2018 ini. Berbagai alur kehidupan, naik-turun, cobaan-anugerah, senang-sedih, dapat terlalui selama 34 tahun hidup saya (iya betul usia saya 34 tahun).  Sebagian terlupakan, sebagian meninggalkan bekas, namun semua membentuk karakter saya saat ini.
Long story short, suatu hari pada bulan Maret saya merasakan saya ga sanggup lagi menghadapi keadaan yang ada di hidup saya pada saat itu. Saya merasakan perasan yang bercampur aduk yang membuat pikiran saya buntu, perasaan saya sungguh mellow dan sejujurnya saya sempat kehilangan semangat hidup. Setelah curhat dengan seorang sahabat, dia menyarankan saya untuk menemui psikolog. 

Bertemu dengan psikolog bukanlah hal baru bagi saya. Pengalaman pertama saya menjalani konseling dengan psikolog ketika semester akhir masa pendidikan di Australia beberapa tahun lalu. Ketika itu saya merasa stress dan tidak termotivasi karena ada nya masalah pribadi (ya oke saya jujur, waktu itu saya patah hati :D) yang akhirnya membuat kinerja saya di sekolah menurun drastis. Staf student center pada saat itu menyarankan saya untuk konseling  ke psikolog. Yang saya sadari ketika saya bertemu dengan konselor adalah saya bisa menceritakan segala hal yang saya rasakan. Sejujur-jujurnya menumpahkan segala hal yang saya pikirkan dan saya rasakan. Bahkan kisah yang sama yang saya curhatkan kepada teman, saya ceritakan kembali kepada konselor sembari bercucuran air mata. Karena tidak ada hal yang saya tutupi dan perasaan yang harus saya sembunyikan layaknya kalau di depan teman. Tidak ada jaim-jaiman.

Menuruti saran dari sahabat saya dan berkaca pada pengalaman konseling saya sebelumnya, saya memutuskan datang ke psikolog di RSCM Kencana. Pertama kali saya ditangani oleh psikiater, karena sebelum bertemu psikolog, seorang pasien harus mendapat rekomendasi dari psikiater. Saya menjalani beberapa pertemuan dan sesi konseling baik dengan psikiater dan psikolog. Saya juga menjalani test MMPI dan sesi brainspotting. Test MMPI atau Minnesota Multiphasic Personality Inventory adalah tes psikometri yang digunakan untuk mengukur psikopatologi orang dewasa. Dalam test MMPI ini saya harus menjawab sebanyak 567 pertanyaan terkait dengan sosial, moral, agama dan budaya. Sementara brainspotting adalah tehnik terapi yang langsung mengakses subkortek, memori bawah sadar, sehingga lebih cepat untuk mengatasi trauma, pengalaman negatif, emosi negatif, dan pengalaman yang tidak nyaman. 

Jujur saja, tidak semua orang mendukung ketika saya bercerita tentang sesi konseling yang saya jalani. Untuk yang tidak mendukung, mereka menganggap kalau saya lemah ataupun lebay dalam menyikapi hidup. Tapi alasan kuat saya untuk menyehatkan mental saya adalah karena saya sadar saya tidak hidup sendiri. Jiwa saya yang tidak kuat dan tidak positif ini jelas berdampak kepada orang-orang disekitar saya. Saya menjadi pribadi yang pemarah, saya tidak bersemangat sehingga kerja di kantor menurun, dan saya menjadi sosok yang demanding yang takut bila harus sendiri. Bukankah ketika seseorang merupakan pribadi yang utuh dan sehat, dia akan bisa memberi energi positif kepada lingkungan sekitarnya? Itulah tujuan hidup saya, saya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat dan positif bagi orang lain. Saya ingin menjadi teman yang tidak demanding, pasangan yang pengertian, ibu yang penuh kasih sayang untuk keluarga saya kelak, atasan yang menginspirasi anak buah, intinya memperlakukan setiap orang dengan baik apapun peran saya dalam hidup ini. Dan saya juga percaya, ketika seorang pribadi utuh dan sehat, akan banyak welas-asih dan kasih-sayang di dalam dirinya yang bisa ia bagikan keorang lain. 
In this crazy life, don't we all need more care and love?

This is a confession of an ordinary woman.
Tulisan ini merupakan pengakuan yang ga mudah,apalagi berbagai penilaian orang terkait psikolog dan mental health tidak selalu positif. 
Sudah lama sebenarnya saya ingin berbagi tentang hal ini, 
dan sekarang yang ingin saya sampaikan adalah it's ok not to be ok. 
Kalau kamu merasa sendirian dan butuh dukungan, 
carilah teman baik atau keluarga yang bisa memahami keadaan kamu,
carilah ahli yang bisa membantu kamu memecahkan masalah kamu. 
Kalau kamu punya teman yang sepertinya butuh bantuan dan dukungan, 
be gentle to them, they might be struggling  inside.


Last but not least, when everything seems so hard,
you always have your God that will never let you alone.
sebaik-baiknya pelarian adalah ibadah

salam
Wulan


ps: insyallah saya akan cerita lagi lebih lanjut dan lebih detail tentang pengalaman saya terkait mental health ini ya ^^



Sunday, April 22, 2018

My First Umrah


12 April 2018
hari yang mencatat salah satu milestone dan salah satu dream come true dalam hidup saya.
karena Allah Maha Baik, dan Allah Maha Berkehendak,

Bermula pada awal bulan Maret ketika kaka saya curhat tentang rencananya berangkat umroh untuk mencari jawaban atas masalah yang sedang dihadapinya. Ketika mendengar rencana tersebut saya hanya meng-amin-i dan mendukung keputusannya, berharap perjalanan umroh tersebut dapat memberi petunjuk  dan jalan keluar bagi  kakak saya. 

Sejujurnya pada saat itu pun saya juga sedang menghadapi masalah saya sendiri, pekerjaan yang overload, rasa kesepian yang kadang-kadang datang, atau ketidakpuasan dalam fase hidup saya saat ini. Hidup rasanya seperti kosong dan jalan ditempat. Mungkin saya hanya merasa jenuh karena sebenarnya banyak hal yang patut saya syukuri. 

Suatu pagi awal bulan April, tiba-tiba terpikir dalam benak sendiri "kenapa saya ga ikut umroh aja ya?", lalu  saya langsung menghubungi kontak travel umroh yang mengurusi keberangkatan kakak saya. Subhanallah, Allah maha Baik, masa persiapan yang tidak sampai 2 minggu seakan dimudahkan oleh Allah swt. Bahkan visa saya selesai lebih dulu dibanding kakak saya yang sudah mengurus lebih dulu karena kakak saya terkendala proses penggantian paspor yang mulai expired sementara paspor saya masih valid dengan nama yang telah terdiri dari tiga suku kata (salah satu syarat mengajukan visa Arab Saudi yaitu paspor yang terdiri dari tiga suku kata). Atas ijin Allah swt, kemudahan juga saya rasakan ketika dua teman saya berbaik hati meminjamkan pernak pernik untuk ibadah umroh, mulai dari baju gamis, kerudung, baju ihram, kaos kaki baru, bahkan sunblock dan obat-obatan ! Kalau harus saya jalani sendirian rasanya ga sanggup mempersiapkan keberangkatan umrah ini karena saya ga tau apa-apa tentang do's or don't umroh, baju gamis saja saya ga punya sama sekali. Ga kebayang kalau harus cari tahu sendiri segala informasi tentang umroh dan harus cari sendiri baju gamis dan perlengkapan umroh dalam waktu kurang dari 10 hari.

Datang ke Mekkah, menginjakkan kaki di Masjidil Haram dan melihat Kabbah dari dekat merupakan salah satu "bucket list" teratas saya. 
"Orang-orang pinginnya ke Paris atau Eropa, aku mau nya ke Mekkah dulu aja" ucapan saya (bukan doa loh) di awal tahun 2018 ini yang ternyata di ijabah oleh Allah swt. Tidak pernah saya bayangkan bahwa saya dapat mewujudkan keinginan untuk datang ke tanah suci secepat ini. Saya selalu membayangkan kalau suatu saat nanti saya akan ke tanah suci ditemani oleh pasangan saya, karena jujur tidak pernah terpikirkan bahwa salah satu anggota keluarga saya akan berangkat ke tanah suci. Jadi yang terpatri dalam pikiran saya yaitu mendapatkan jodoh dulu baru bisa berangkat ke tanah suci. Sementara saat ini masih sabar menanti jodoh berarti ke tanah suci-nya ya masih nanti-nanti dong hehehe,,,. Saya juga pernah berhitung loh berapa orang yang berangkat haji atau umroh yang sudah saya titipkan doa, kira-kira hampir 10 orang ^^ .
Alhamdulillah kali ini saya berkesempatan untuk berdoa sendiri di depan Kabbah.

Allah maha Baik 
Hanya kata-kata itu yang bisa saya ucapkan,,
bahkan tulisan di postingan kali ini pun ga jelas alur cerita-nya
sama seperti yang saya rasakan, campur aduk semua jadi satu.
semoga diberi kesempatan untuk menjadi tamu Allah lagi suatu saat nanti
aamiin ya Rab.

pukul 11 malam, usai menunaikan umroh pertama 

Sepanjang perjalanan umroh ini, kegiatan yang kami lakukan hanya seputaran masjid dan hotel, satu-dua kali diisi dengan perjalanan mengunjungi tempat bersejarah. Saya merasa seolah diberikan gambaran akan bagaimana harusnya manusia menjalani hidup. Bahwa manusia hidup, bangun dan makan, hanya untuk beribadah. Ada hari dimana saya ga lagi berpikir tentang alis, eyeliner atau kulit wajah yang mulai menghitam. Tapi lebih memikirkan apakah ibadah umroh saya akan sempurna dan diterima Allah swt, dan apakah waktu saya dalam perjalanan ini akan cukup diisi oleh ibadah atau adakan sedikit waktu saya selama di tanah suci menjadi sia-sia karena melakukan hal-hal diluar ibadah. 
Seperti itulah, seharusnya setiap hari saya menjalani hidup di dunia ini ..  


subuh terakhir di Masjid Nabawi dan baru sadar belum punya foto disini,
kekeuh berfoto walaupun sebenernya malu dan hasilnya pun kurang cahaya
tapi yang penting memori -nya ga akan hilang


Masjid Nabawi yang terlalu indah untuk bisa di capture dalam sebuah foto


di depan salah satu rumah yang ada di Kebun Kurma Al Khatem

Jabal Uhud tempat pertempuran Uhud

Jabal Rahman tempat bertemu nya Bapak Adam dan Ibu Hawa

somewhere in Jeddah

"dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (QS 51:56)


salam
Wulan,




Saturday, March 10, 2018

Style in Mix Pattern


Hallooo,

Kalian suka ga sih scroll-scroll foto lama trus nemu foto yang setelah diliat -liat sebenernya layak terbit tapi ternyata belum pernah di posting di mana-mana?!. Nah, kemarin saya sempet liat-liat folder foto-foto lama, suprisingly saya punya stock foto yang ga pernah terbit di blog ini. Kalau ga salah inget, foto ini diambil waktu masih sekolah kemarin, lagi ga ada kelas dan lagi ga keluar rumah jadi nya play-dress-up trus foto-foto deh. 







Saya sebenernya suka mix and match dan bereksperimen dalam berpakaian, dan waktu itu saya inget punya celana plaid yang bisa di padankan dengan kemeja yang juga plaid. Kalau urusan mix pattern, saya suka banget lihat Blair dari the atlantic pasific , yang jago mix match warna dan pattern di setiap ootd -nya. Outfit Blair yang berwarna selalu jadi vitamin untuk mata saya ketika fashion industry didominasi dengan warna monochrome sejak beberapa waktu lalu. Lihat deh gimana dia berhasil banget mix and match polkadot dan plaid dari 3 item yang berbeda jadi satu tampilan yang chic !! laafff banget yaah


pic credit to the atlantic pasific

gimana, jadi gemes pingin coba-coba mix and match baju yang ada dilemari kamu ga? ^^

Salam, Kiss and Hug
Wulan


Friday, March 2, 2018

Hallo 2018 !


Hallo 2018,
Halloo you, 



Meskipun kebiasaan lama belum berubah, nulis blog masih musiman dan belum rutin tapi hey ! akhirnya saya nulis lagi hari ini kan, dan inshallah akan terus share macam-macam hal di sini.

Sebenernya kadang-kadang di tengah rutinitas suka muncul ide untuk sharing sesuatu di posting blog, tapi perpaduan antara sok sibuk, malas, introvert, perfeksionis dan kurang komitmen akhirnya bikin ide tersebut ga pernah jadi kenyataan,  hiks  hiks maaf ya pemirsa dan pembaca sekalian.  Dan hari ini, tiba-tiba muncullah urgensi untuk segera menulis blog, tanpa nunggu pulang kerumah dan pakai laptop sendiri, alih-alih langsung buka blog di PC kantor. Tau ga kenapa? karena belakangan ini udah overwhelmed banget sama kerjaan kantor dan bener-bener butuh immediate escape, dan nulis merupakan terapi dan immediate escape yang ampuh untuk saya. So here it is .... 

Bulan lalu, saya ditawari oleh seorang teman pemilik bisnis toko vintage di instagram @lemarilawas untuk membantu mereka dalam sebuah project foto. Selain karena pemiliknya merupakan teman saya, saya juga menyukai konsep bisnis dari @lemarilawas. Tentunya saya juga merupakan windowshopper setia yang kadang-kadang khilaf  membeli barang-barang vintage yang dijual @lemarilawas. Maka ga butuh pikir pikir dua kali untuk setuju membantu project foto "japanese quirky" yang mereka tawarkan.  

Sebenernya saya ga punya basic modeling apa pun kecuali yang saya sudah praktikan di akun instagram pribadi saya hehe. Saya juga cukup pemalu jadi ga terbiasa berada di depan kamera dan photografer. Asal tau saja, sebagian besar foto-foto di instagram saya merupakan hasil dari foto timer di kamera handphone. Jadi ketika harus difoto untuk produk-produk @lemarilawas sebenarnya saya sedang berlatih melawan rasa malu dan ke-kikuk-an diri sendiri. Apalagi ternyata photografer yang membantu sesi pemotretan ga cuma satu, tapi satu komunitas photografer! 

behind the scene

Awalnya merasa fine-fine aja berdiri di depan layar background dan di hadapan banyak pasang mata dan kamera sambil coba-coba berekspresi dan bergaya sebisanya. Sampai ada salah satu photografer yang berkomentar kalau muka saya terlihat asem sekali. Wow, kritik-nya nyebelin banget yaaa, lah saya kan bukan model profesional dan mereka pun bukan photografer profesional jadi ya ga perlu lah ngasih komentar seperti itu. Bukankah photografer profesional harus bisa meng-capture segala macam bentuk emosi dan mengabadikannya menjadi sebuah potret seni? Kalo cuma mau men-capture yang bagus-bagus saja, dan yang cantik-cantik saja berarti fotonya bagus bukan karena photografer nya dong? ya at least itu lah pendapat saya.  Saat itu rasanya sudah pingin pasang tampang jutek aja deh, tapi karena tekat saya sudah bulat untuk bantu teman, jadi saya kalahkan ego saya dan berusaha nanya ke photografer dan pengarah gaya apa yang sebaiknya saya lakukan sambil terus puter otak mau bergaya seperti apa. Dan jadilah beberapa foto yang saya suka,,,


credit to @lemarilawas


 

 



dari proses pemotretan kemarin saya sebenarnya mendapat pelajaran yang lumayan berharga untuk jadi bekal resolusi 2018. 

to accept myself for what I am, and
to not to give too much damn on what people say about me.

pada akhirnya sepanjang proses jepret-jepret saya berusaha senyum dan memberi ekspresi ceria sebisa nya sesuai yang diinginkan photographer, walaupun lebih sering menunjukkan ekspresi melankolis which is my genuine facial expression yang terberkati dengan mata sendu dan bentuk bibir yang sedikit melengkung turun. I accept myself, meskipun pada saat itu jelas sekali saya bukan model yang diharapkan sama photografernya. Tapi ya sudah, ini lah saya. Kalau kejadiannya beberapa tahun lalu, saya pasti langsung jutek, ga mood dan pingin nangis dan berusaha mati-matian untuk senyum yang akhirnya jadi failed karena senyumnya ga keluar dari dalam hati. 

Dari hasil poto yang terkumpul banyak banget yang failed, ya yang matanya merem, yang matanya setengah merem, atau yang giginya terlalu keluar hahaha, tapi ya sudah diterima saja. Kalau dulu pasti langsung pingin hapuskan semua foto -foto yang jelek sampai akar-akarnya supaya jangan sampai mencoreng sejarah ketika di masa datang. Oo by the way, ada juga sih beberapa foto yang tersenyum,,

ala ala Gadis Sampul yah hehe
bae's favorite

menurut kalian gimana hasil foto nya? ^^

once in a while, go out of your comfort zone and learn something there
salam,
Wulan 



Sunday, October 15, 2017

where to stay in Jogjakarta #2


Yellow

Hari kedua di Jogjakarta saya pindah penginapan ke Pawon Coklat Guesthouse. Kali ini saya ga salah liat peta seperti hal nya waktu memilih penginapan hari pertama di postingan sebelumnya, karena guest house ini berada di lokasi yang beneran strategis. Pawon Coklat Guesthouse terletak di Gang 1 Jalan Sosrowijayan, selemparan batu ke Stasiun Tugu dan Jalan Malioboro.  Yup betul, guest house nya ada di dalam gang. Jarak menuju guest house nya tidak teralu jauh dari mulut gang, dan lingkungan di sekitarnya juga cukup bersih kok. Tapiii, denger-denger daerah ini terkenal sebagai "tempat laki -laki hidung belang mencari hiburan" - sorry guys , I couldn't find better words to describe- . Jadi jujur saya agak parno kalau harus jalan sendirian di dalam gang menuju ke  penginapannya. 

Pawon Coklat Guesthouse merupakan properti 3 lantai yang mengusung tema green urban living. Guesthouse ini punya public space dengan beberapa spot yang bisa di pakai untuk duduk-duduk santai. Kalau menginap di Pawon Coklat, kamu akan dimanjakan dengan atmosfir rindang dan cozy, tanaman-tanaman merambat dan kursi-kursi vintage yang unik menjadi pengalih perhatian kalau sebenernya guesthouse ini berada di kawasan yang cukup padat. Kamar-nya sendiri sangat minimalis tapi tetap nyaman untuk sekedar beristirahat. 


front area alias lobby nya Pawon Coklat


no elevator, just stairs,, lumayan juga kalau geret2 koper


kamar yang minimalis tapi cukup nyaman

lupa di foto sewaktu masih rapih,, oopss
public space yang disediakan Pawon Coklat

salah satu kamar di Pawon Coklat

suasana yang cozy meskipun ada di lingkungan yang padat 

Sewaktu googling tentang Pawon Coklat Guesthouse, saya sempet menemukan foto rooftop-nya yang keliatannya asik. Rooftop ini sebenernya jadi salah satu pertimbangan akhirnya memutuskan untuk coba menginap di Pawon Coklat Guesthouse. Tapi sewaktu saya  stay disana, dan coba naik ke lantai paling atas, ternyata rooftop nya sudah berubah jadi tempat jemuran. huhuhu sayang bangeett



pic via booking.com
iconic mural-nya Pawon Coklat Guesthouse


hhmmm setelah ini mau explore kemana lagi yaa

 jadi review saya tentang Pawon Coklat Guesthouse

+) lokasi yang super strategis, dekat dengan Stasiun Tugu dan Malioboro
+) ambiance yang cozy
+) instagramable banget 


-) kebersihan kamar mandinya kurang terjaga, dan ga punya exhaust fan jadi nya bikin bau kurang sedap
-) akses menuju ke Pawon Coklat agak -agak kurang nyaman kalau dilalui cewe apalagi kalau sendirian
-) karena ubinnya bukan keramik, lebih baik pakai slippers di dalam kamar supaya kaki nya ga kotor debu


over all, menurut saya Pawon Coklat Guesthouse ini asik buat kamu - kamu yang punya jiwa backpacker. Penginapannya yang ga terlalu besar dan public space yang cozy cocok banget buat backpacker-backpacker yang lebih seneng hang out di luar kamar dan mingle sama tamu-tamu penginapan lainnya. 

salam, love
Wulan