Saturday, March 10, 2018

Style in Mix Pattern


Hallooo,

Kalian suka ga sih scroll-scroll foto lama trus nemu foto yang setelah diliat -liat sebenernya layak terbit tapi ternyata belum pernah di posting di mana-mana?!. Nah, kemarin saya sempet liat-liat folder foto-foto lama, suprisingly saya punya stock foto yang ga pernah terbit di blog ini. Kalau ga salah inget, foto ini diambil waktu masih sekolah kemarin, lagi ga ada kelas dan lagi ga keluar rumah jadi nya play-dress-up trus foto-foto deh. 







Saya sebenernya suka mix and match dan bereksperimen dalam berpakaian, dan waktu itu saya inget punya celana plaid yang bisa di padankan dengan kemeja yang juga plaid. Kalau urusan mix pattern, saya suka banget lihat Blair dari the atlantic pasific , yang jago mix match warna dan pattern di setiap ootd -nya. Outfit Blair yang berwarna selalu jadi vitamin untuk mata saya ketika fashion industry didominasi dengan warna monochrome sejak beberapa waktu lalu. Lihat deh gimana dia berhasil banget mix and match polkadot dan plaid dari 3 item yang berbeda jadi satu tampilan yang chic !! laafff banget yaah


pic credit to the atlantic pasific

gimana, jadi gemes pingin coba-coba mix and match baju yang ada dilemari kamu ga? ^^

Salam, Kiss and Hug
Wulan


Friday, March 2, 2018

Hallo 2018 !


Hallo 2018,
Halloo you, 



Meskipun kebiasaan lama belum berubah, nulis blog masih musiman dan belum rutin tapi hey ! akhirnya saya nulis lagi hari ini kan, dan inshallah akan terus share macam-macam hal di sini.

Sebenernya kadang-kadang di tengah rutinitas suka muncul ide untuk sharing sesuatu di posting blog, tapi perpaduan antara sok sibuk, malas, introvert, perfeksionis dan kurang komitmen akhirnya bikin ide tersebut ga pernah jadi kenyataan,  hiks  hiks maaf ya pemirsa dan pembaca sekalian.  Dan hari ini, tiba-tiba muncullah urgensi untuk segera menulis blog, tanpa nunggu pulang kerumah dan pakai laptop sendiri, alih-alih langsung buka blog di PC kantor. Tau ga kenapa? karena belakangan ini udah overwhelmed banget sama kerjaan kantor dan bener-bener butuh immediate escape, dan nulis merupakan terapi dan immediate escape yang ampuh untuk saya. So here it is .... 

Bulan lalu, saya ditawari oleh seorang teman pemilik bisnis toko vintage di instagram @lemarilawas untuk membantu mereka dalam sebuah project foto. Selain karena pemiliknya merupakan teman saya, saya juga menyukai konsep bisnis dari @lemarilawas. Tentunya saya juga merupakan windowshopper setia yang kadang-kadang khilaf  membeli barang-barang vintage yang dijual @lemarilawas. Maka ga butuh pikir pikir dua kali untuk setuju membantu project foto "japanese quirky" yang mereka tawarkan.  

Sebenernya saya ga punya basic modeling apa pun kecuali yang saya sudah praktikan di akun instagram pribadi saya hehe. Saya juga cukup pemalu jadi ga terbiasa berada di depan kamera dan photografer. Asal tau saja, sebagian besar foto-foto di instagram saya merupakan hasil dari foto timer di kamera handphone. Jadi ketika harus difoto untuk produk-produk @lemarilawas sebenarnya saya sedang berlatih melawan rasa malu dan ke-kikuk-an diri sendiri. Apalagi ternyata photografer yang membantu sesi pemotretan ga cuma satu, tapi satu komunitas photografer! 

behind the scene

Awalnya merasa fine-fine aja berdiri di depan layar background dan di hadapan banyak pasang mata dan kamera sambil coba-coba berekspresi dan bergaya sebisanya. Sampai ada salah satu photografer yang berkomentar kalau muka saya terlihat asem sekali. Wow, kritik-nya nyebelin banget yaaa, lah saya kan bukan model profesional dan mereka pun bukan photografer profesional jadi ya ga perlu lah ngasih komentar seperti itu. Bukankah photografer profesional harus bisa meng-capture segala macam bentuk emosi dan mengabadikannya menjadi sebuah potret seni? Kalo cuma mau men-capture yang bagus-bagus saja, dan yang cantik-cantik saja berarti fotonya bagus bukan karena photografer nya dong? ya at least itu lah pendapat saya.  Saat itu rasanya sudah pingin pasang tampang jutek aja deh, tapi karena tekat saya sudah bulat untuk bantu teman, jadi saya kalahkan ego saya dan berusaha nanya ke photografer dan pengarah gaya apa yang sebaiknya saya lakukan sambil terus puter otak mau bergaya seperti apa. Dan jadilah beberapa foto yang saya suka,,,


credit to @lemarilawas


 

 



dari proses pemotretan kemarin saya sebenarnya mendapat pelajaran yang lumayan berharga untuk jadi bekal resolusi 2018. 

to accept myself for what I am, and
to not to give too much damn on what people say about me.

pada akhirnya sepanjang proses jepret-jepret saya berusaha senyum dan memberi ekspresi ceria sebisa nya sesuai yang diinginkan photographer, walaupun lebih sering menunjukkan ekspresi melankolis which is my genuine facial expression yang terberkati dengan mata sendu dan bentuk bibir yang sedikit melengkung turun. I accept myself, meskipun pada saat itu jelas sekali saya bukan model yang diharapkan sama photografernya. Tapi ya sudah, ini lah saya. Kalau kejadiannya beberapa tahun lalu, saya pasti langsung jutek, ga mood dan pingin nangis dan berusaha mati-matian untuk senyum yang akhirnya jadi failed karena senyumnya ga keluar dari dalam hati. 

Dari hasil poto yang terkumpul banyak banget yang failed, ya yang matanya merem, yang matanya setengah merem, atau yang giginya terlalu keluar hahaha, tapi ya sudah diterima saja. Kalau dulu pasti langsung pingin hapuskan semua foto -foto yang jelek sampai akar-akarnya supaya jangan sampai mencoreng sejarah ketika di masa datang. Oo by the way, ada juga sih beberapa foto yang tersenyum,,

ala ala Gadis Sampul yah hehe
bae's favorite

menurut kalian gimana hasil foto nya? ^^

once in a while, go out of your comfort zone and learn something there
salam,
Wulan 



Sunday, October 15, 2017

where to stay in Jogjakarta #2


Yellow

Hari kedua di Jogjakarta saya pindah penginapan ke Pawon Coklat Guesthouse. Kali ini saya ga salah liat peta seperti hal nya waktu memilih penginapan hari pertama di postingan sebelumnya, karena guest house ini berada di lokasi yang beneran strategis. Pawon Coklat Guesthouse terletak di Gang 1 Jalan Sosrowijayan, selemparan batu ke Stasiun Tugu dan Jalan Malioboro.  Yup betul, guest house nya ada di dalam gang. Jarak menuju guest house nya tidak teralu jauh dari mulut gang, dan lingkungan di sekitarnya juga cukup bersih kok. Tapiii, denger-denger daerah ini terkenal sebagai "tempat laki -laki hidung belang mencari hiburan" - sorry guys , I couldn't find better words to describe- . Jadi jujur saya agak parno kalau harus jalan sendirian di dalam gang menuju ke  penginapannya. 

Pawon Coklat Guesthouse merupakan properti 3 lantai yang mengusung tema green urban living. Guesthouse ini punya public space dengan beberapa spot yang bisa di pakai untuk duduk-duduk santai. Kalau menginap di Pawon Coklat, kamu akan dimanjakan dengan atmosfir rindang dan cozy, tanaman-tanaman merambat dan kursi-kursi vintage yang unik menjadi pengalih perhatian kalau sebenernya guesthouse ini berada di kawasan yang cukup padat. Kamar-nya sendiri sangat minimalis tapi tetap nyaman untuk sekedar beristirahat. 


front area alias lobby nya Pawon Coklat


no elevator, just stairs,, lumayan juga kalau geret2 koper


kamar yang minimalis tapi cukup nyaman

lupa di foto sewaktu masih rapih,, oopss
public space yang disediakan Pawon Coklat

salah satu kamar di Pawon Coklat

suasana yang cozy meskipun ada di lingkungan yang padat 

Sewaktu googling tentang Pawon Coklat Guesthouse, saya sempet menemukan foto rooftop-nya yang keliatannya asik. Rooftop ini sebenernya jadi salah satu pertimbangan akhirnya memutuskan untuk coba menginap di Pawon Coklat Guesthouse. Tapi sewaktu saya  stay disana, dan coba naik ke lantai paling atas, ternyata rooftop nya sudah berubah jadi tempat jemuran. huhuhu sayang bangeett



pic via booking.com
iconic mural-nya Pawon Coklat Guesthouse


hhmmm setelah ini mau explore kemana lagi yaa

 jadi review saya tentang Pawon Coklat Guesthouse

+) lokasi yang super strategis, dekat dengan Stasiun Tugu dan Malioboro
+) ambiance yang cozy
+) instagramable banget 


-) kebersihan kamar mandinya kurang terjaga, dan ga punya exhaust fan jadi nya bikin bau kurang sedap
-) akses menuju ke Pawon Coklat agak -agak kurang nyaman kalau dilalui cewe apalagi kalau sendirian
-) karena ubinnya bukan keramik, lebih baik pakai slippers di dalam kamar supaya kaki nya ga kotor debu


over all, menurut saya Pawon Coklat Guesthouse ini asik buat kamu - kamu yang punya jiwa backpacker. Penginapannya yang ga terlalu besar dan public space yang cozy cocok banget buat backpacker-backpacker yang lebih seneng hang out di luar kamar dan mingle sama tamu-tamu penginapan lainnya. 

salam, love
Wulan